Senin, 28 November 2011

SUMBER DAYA MANUSIA (SDM)

"Praktik-Praktik Pengelolaan Sumber Daya Manusia dan
Keunggulan Kompetitif Berkelanjutan"


perubahan-perubahan yang mendasar dalam lingkungan bisnis telah
menyebabkan pergeseran dalam urutan pentingnya manajemen sumber daya
manusia dan fungsi sumber daya manusia. Departemen sumber daya manusia diberi
kesempatan mengambil peran penting dalam tim manajemen. Hal ini terjadi karena
fungsi sumber daya manusia sedang berubah menjadi fungsi manajemen yang
penting. Menurut pendapat para peneliti dan teoretisi, aset sumber daya manusia
dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif yang berkelajutan karena aset-aset
manusia tersebut mempunyai pengetahuan dan kompleksitas sosial yang sulit ditiru
oleh para pesaing.
Praktik-praktik manajemen sumber daya manusia yang diperkirakan dapat
menjadi sumber keunggulan kompetitif yang berkelajutan adalah kepastian kerja,
selektivitas dalam rekrutmen, upah tinggi, upah insentif, kepemilikan karyawan,
pembagian informasi, keterlibatan dan pemberdayaan, tim-tim yang diatur sendiri,
pelatihan dan pengembangan ketrampilan, penggunaan dan pelatihan silang,
kesamaan semua orang, upah/gaji tidak jauh selisihnya, serta kenaikan pangkat bagi
orang dalam.

PENDAHULUAN
Krisis ekonomi yang terjadi akhir-akhir ini membawa dampak sangat sangat besar
pada dunia bisnis Indonesia. Maraknya krisis pemutusan hubungan kerja baik secara
sukarela atau sepihak menunjukkan bahwa SDM (sumber daya manusia) masih dianggap
sebagai salah satu faktor produksi dan bukan sebagai aset perusahaan yang berarti mitra
kerja perusahaan.
Setiap organisasi perusahaan beroperasi dengan menggunakan seluruh sumber
dayanya untuk dapat menghasilkan produk baik barang/jasa yang bisa dipasarkan. Dalam
hal ini pengelolaan sumber daya yang dimiliki perusahaan meliputi sumber daya
finansial, fisik, SDM, dan kemampuan teknologis dan sistem (Simamora, 1995). Karena
sumber-sumber yang dimiliki perusahaan bersifat terbatas sehingga perusahaan dituntut
mampu memberdayakan dan mengoptimalkan penggunaannya untuk mempertahankan
kelangsungan hidup perusahaan.
Dari berbagai sumber daya yang dimiliki perusahaan SDM menempati posisi strategis
diantara sumber daya lainnya. Tanpa SDM, sumber daya yang lain tidak bisa
dimanfaatkan apalagi dikelola untuk menghasilkan suatu produk. Tetapi dalam
kenyataanya masih banyak perusahaan tidak menyadari pentingnya SDM bagi
kelangsungan hidup perusahaan. Masih banyak perusahaan yang menganggap SDM
adalah aset organisasi yang paling penting, karena SDM yang menggerakkan dan
membuat sumber daya lainnya bekerja.
Oleh karena itu penulis tertarik untuk membahas secara khusus bagaimana mengelola
SDM sehingga bisa menjadi sumber keunggulan kompetitif bagi perusahaan. Namun
sebelumnya akan dipaparkan terlebih dahulu, mengenai perubahan lingkungan bisnis dan
pentingnya SDM dan bagaimana fungsi MSDM telah mengalami suatu repositioning,
yang akan menghantarkan pada pembahasan mengenai praktik-praktik pengelolaan SDM
untuk menciptakan keunggulan kompetitif bagi perusahaan.
 
PERUBAHAN LINGKUNGAN BISNIS, PENTINGNYA TENAGA
KERJA, DAN KETIDAKPASTIAN TENAGA KERJA

Perubahan-perubahan mendasar dalam lingkungan bisnis menuntut peran MSDM
yang lebih besar, perubahan sifat penting fungsi MSDM dan departemen SDM.
Berubahnya lingkungan bisnis secara dramatis ditandai dengan bergejolaknya lingkungan
bisnis, kondisi bisnis yang semakin kompleks dan tidak dapat diprediksi dan
meningkatnya biaya-biaya operasi dan tekanan kompetitif menciptakan tantangan bagi
organisasi yang ingin meraih keunggulan kompetitif.
Pesatnya perkembangan teknologi terutama di bidang informasi dan komunikasi telah
memperkecil jarak antar bangsa. Dengan berkembangnya teknologi persaingan semakin
terbuka dan bisnis semakin kompleks. Permintaan tenaga kerja dengan ketrampilan,
pengetahuan, dan kemampuan tinggi semakin meningkat. Tuntutan ini dapat dipenuhi
dengan outsourcing, education (pendidikan) dan retraining (pelatihan kembali secara
kontinyu). Organisasi menjadi semakin kompleks baik dari segi produk, operasi,
teknologi, fungsi bisnis, dan terobosan-terobosan pasar yang dilakukan.

Mulai era 1990-an mulai muncul trend organisasi yang lebih datar, lebih ramping, dan
lebih fleksibel sehingga menciptakan tantangan bagi manajer dan staff SDM (Walker,
1990). Aspek-aspek demografi dan ketersediaan tenaga kerja telah berubah. Respon yang
lebih besar telah diberikan pada kekuatan-kekuatan eksternal (perundang-undangan,
peraturan, peradilan, dan hubungan serikat pekerja). Perubahan lingkungan bisnis yang
terjadi mengarah pada pengakuan pentingnya SDM.
SDM merupakan asset kritis organisasi yang tidak hanya diikutsertakan dalam filosofi
perusahaan tetapi juga dalam proses perencanaan strategis. Menurut Kathrin Connor
(dikutip dari Schuller, 1990), wakil presiden SDM di Liz Claiborne:
Human resources are a part of the strategic planning process. It is a part of policy
development, line extension planning and the merger and acquisition processes. Little is
done in planning policy on the finalization stages of any deal.
Dari pernyataan Kathrin Connor, diakui bahwa SDM merupakan bagian proses
perencanaan strategis dan menjadi bagian pengembangan kebijaksanaan organisasi,
perencanaan perluasan lini organisasi, proses merger dan akuisisi organisasi. Hanya
sebagian kecil saja hal-hal yang dilakukan organisasi tanpa melibatkan SDM dalam
membuat perecanaan, kebijaksanaan, dan pembentukan strategi organisasi. Apabila
organisasi melakukan perencanaan strategis manajer lini lebih berkemungkinan melihat
sifat-sifat penting isu-isu SDM yang ada.
Masalah-masalah SDM terus meningkat khususnya berkenaan dengan supply tenaga
kerja trampil, yang memiliki kemampuan adaptasi memadai, dan mampu menghadapi
kerancuan-kerancuan yang ada (ambiguitas). SDM mempunyai andil yang besar bagi
keberhasilan bisnis. Isu-isu SDM meliputi isu bisnis yang berkaitan dengan tenaga kerja
kerja, dan isu-isu tesebut mempengaruhi esensi bisnis seperti profitabilitas, survival, daya
saing, kemampuan adaptasi dan fleksibilitas.
Kritisnya peran SDM tidak disertai dengan sifat kepastian tenaga kerja. Justru
sebaliknya terdapat peningkatan ketidakpastian tenaga kerja yang dihadapi organisasi.
Organisasi tidak dapat menentukan secara pasti hal-hal yang berkenaan dengan supply
tenaga kerja antara lain :1. Bagaimana menarik, mempertahankan, dan memotifasi SDM
yang semakin beragam 2. Bagaimana cara mendapatkan individu yang memiliki
ketrampilan, pengetahuan, dan kemampuan yang tepat. Akhirnya bagaimana
mengarahkan SDM yang ada agar dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif baik
secara domestik maupun internasional.
 
REPOSITIONING FUNGSI MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
Fungsi MSDM merupakan salah satu fungsi perusahaan yang penting, di samping
fungsi perusahaan lain seperti pemasaran, produksi, dan keuangan. Saat ini semakin
disadari bahwa SDM merupakan hal penting dan menjadi sumber keunggulan bersaing
bagi organisasi. Seperti yang telah dikemukakan pada bagian sebelumnya, perubahan
lingkungan bisnis telah membawa dampak yang tidak sedikit bagi perusahaan. SDM pun
mengalami perubahan dari suatu yang bersifat parsial ke arah yang lebih terintegrasi dan
bersifat strategik. Departemen personalia (SDM) akan diarahkan untuk memainkan peran
yang lebih penting dalam tim manajemen. Hal ini disebabkan adanya perubahan
lingkungan yang akan menghadapkan organisasi pada isu pegawai (people issue) yang
memiliki sifat-sifat penting dan ketidakpastian yang besar (Schuller, 1990). Isu tersebut
akan berdampak pada isu bisnis yang berarti atau adanya keterkaitan antara SDM dengan
bisnis.
Secara tradisional fungsi departemen personalia hanya melakukan tugas administratif,
mulai dari rekrutment (penarikan) yang meliputi perencanaan SDM (human resources
planning) analisis jabatan yang akan menghasilkan deskripsi pekerjaan dan spesifikasi
jabatan proses seleksi, pelatihan dan pengembangan, penilaian prestasi kerja, pemberian
kompensasi, serta pembaharuan yang berhubungan dengan pensiun dan pemberhentian
kerja. Namun mereka masih belum melakukan hal tersebut di atas dengan pemikiran yang
diarahkan kepada bagaimana mereka dapat membuat organisasi lebih kompetitif dan
efektif.
Dengan fenomena demikian maka departemen personalia dan SDM harus memiliki
perspektif bisnis seperti kepedulian pada karyawan lini bawah, pencapaian laba,
kefektifan dan kelangsungan hidup. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ada upaya
menghadapi isu bisnis dan rencana operasi, dengan mempertimbangkan isu pada masingmasing
jenjang organisasi, dengan mempertimbangkan perspektif dari semua pihak yang
berkepentingan. Beberapa isu utama berkaitan dengan SDM yang menyebabkan
perusahaan perlu melakukan repositioning fungsi SDM antara lain (Schuller, 1990):
1. Mengelola SDM untuk menciptakan kemampuan (kompetensi) SDM.
2. Mengelola diversitas tenaga kerja untuk meraih keunggulan bersaing.
3. Mengelola SDM untuk meningkatkan daya saing atau competitiveness.
4. Mengelolola SDM untuk menghadapi globalisasi (go international).
 
Mengelola SDM Untuk Menciptakan Kompetensi
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat individu-individu
yang masuk dalam angkatan kerja, secara berangsur-angsur kekurangan ketrampilan.
Sebagai tenaga kerja mereka ketinggalan jaman karena kemajuan teknologi dan
perubahan-perubahan organisasional. Isu yang berkaitan dengan pengelolaan SDM untuk
menciptakan kompetensi memiliki dua macam target yaitu bakat manajerial dan
perubahan teknologi. Kemampuan manajerial perlu ditingkatkan untuk meningkatkan
kompetensi SDM, sedangkan revolusi teknologi perlu dilakukan sebagai salah satu sarana
meraih keunggulan.
Organisasi-organisasi terus mengembangkan rencana-rencana dan filosofi-filosofi
yang mendorong penerimaan revolusi teknologi dan mencegah penolakan perubahan
(resistance to change). Tindakan-tindakan ini memberikan perubahan besar pada jumlah
pekerjaan, tipe pekerjaan, dan ketrampilan yang dibutuhkan. Pendidikan, pelatihan,
struktur organisasional, dan fleksibilitas organisasi perlu pula diubah.
Dengan revolusi teknologi terjadi pengaruh psikologis seperti rasa takut tidak dapat
menyesuaikan diri dengan perubahan yang cepat. Perubahan teknologi memiliki implikasi
utama terhadap fungsi-fungsi SDM. Kemajuan teknologi memberikan peluang bagi
manajer SDM maupun manajer lini untuk menjadi pemain penting dalam tim manajemen
(Hammer dan Champy, 1993).
Perkembangan pengetahuan dan teknologi mengubah peranan tenaga kerja dari tenaga
kasar (blue collar) dan fungsi clerical menjadi fungsi yang bersifat teknis (technical),
fungsi manajerial dan profesional. Kebutuhan tenaga blue collar menurun dan banyak
pekerjaan clerical diambil alih oleh mesin otomatis. Oleh karena itu perlu dilakukan
rancang ulang sistem seleksi, sistem kompensasi, uraian tugas, dan sistem pelatihan.
Munculnya organisasi yang ramping, datar dan fleksibel memiliki pengaruh besar pada
MSDM dan sistem manajemen (Walker, 1990). Semakin tinggi pengetahuan,
ketrampilan, dan kemampuan SDM membuat hubungan kerja semakin bersifat kemitraan.
Perencanaan karir bersifat semakin transparan sehingga perlu penerapan sistem
manajemen yang lebih terbuka.
 
Mengelola Diversitas Sumber Daya Manusia Untuk Meraih Keunggulan Bersaing
Mengelola diversitas angkatan kerja berarti menarik, mempertahankan, memotivasi
individu-individu dengan latar belakang yang beragam dan bervariasi berkaitan yang
dengan ras, jenis kelamin, asal-usul, bahasa, status perkawinan, dan pendidikan (Cox dan
Blake, 1991). Selama era 1990-an dan memasuki abad 21 diversitas sumber daya manusia
menjadi komponen utama fenomena tenaga kerja dalam organisasi. Diversitas merupakan
isu yang nyata-nyata penting dan relevan saat ini dan pada masa yang akan datang.
Perubahan-perubahan demografi menciptakan tantangan baru bagi manajer dalam
organisasi.
Perbedaan-perbedaan diantara individu sering menciptakan konflik dalam organisasi.
Jika konflik tidak ditangani secara cepat maka akan menghasilkan kinerja yang buruk.
Isu-isu diversitas dapat mempengaruhi perilaku SDM di seluruh organisasi, departemendepartemen
yang ada, kelompok-kelompok kerja, hubungan-hubungan atau interaksi dua
arah (dyadic) dalam organisasi. Organisasi yang sukses adalah organisasi yang
menanggapi masalah diversitas secara proaktif. Fenomena diversitas perlu diperhatikan
dalam proses perencanaan strategis SDM (Foster, 1988). Para praktisi SDM, ahli
pengembangan organisasional, konsultan, dan spesialis SDM diharapkan membantu
mengelola pelatihan dan melakukan dinamika pelatihan SDM serta memecahkan
masalah-masalah yang berkaitan dengan sumber daya manusia.
Boston Coporation mengemukakan bahwa perusahaan-perusahaan yang menghargai
diversitas akan tampil sebagai pemenang. Program-program yang mendukung diversitas
tidak membahayakan kemampuan perusahaan tetapi justru akan berhasil secara finansial.
Perusahaan yang mengelola diversitas dengan baik bermain untuk memenangkan
persaingan. Diversitas menciptakan lebih banyak kreativitas dan inovasi (Lawrence,
1989).
Respon terhadap isu-isu diversitas terus berkembang sehingga muncul manajermanajer
khusus untuk mengelola diversitas seperti yang dimiliki Digital Equipment
Corporation, Honeywell, Avon, P&G, dan beberapa perusahaan besar lain (Copelland,
1988). Stona Fitch, wakil presiden manufacturing P&G berpendapat: Perusahaanperusahaan
yang pertama mencapai suatu lingkungan multikultural akan memiliki
keunggulan kompetitif. Diversitas memberikan lingkungan yang jauh lebih kaya,
memiliki keragaman sudut pandang dan produktivitas yang lebih besar. Diversitas
membuat pekerjaan jauh lebih menarik dan menyenangkan (Lawrence, 1989).
Hewlett Packard melakukan sesi-sesi pelatihan bagi manajer untuk mengajarkan
mengenai kultur ras yang berbeda-beda, diversitas gender, dan kebutuhan pelatihan. P&G
telah mengimplementasikan program-program penilaian diversitas di seluruh organisasi
serta merancang program untuk mempertahankan manajer-manajer kulit hitam dan
manajer-manajer wanita di perusahaannya (Copeland, 1988). Di Merck tanggung jawab
perekrutan tenaga kerja secara keseluruhan telah dialihkan dari departemen SDM pada
manajer-manajer lini. Merck meningkatkan perekrutan tenaga kerja wanita dan golongan
minoritas (Lawrence, 1989). Equitable Life Assurance Society mendorong kaum wanita
dan golongan minoritas untuk membentuk kelompok-kelompok pendukung yang secara
periodik mengadakan pertemuan-pertemuan dengan CEO untuk membahas masalahmasalah
mereka (Schuller, 1990).
Saat ini semakin banyak perusahaan yang merancang program-program diversitas
SDM dengan ketrampilan, bahasa, latar belakang budaya, umur, dan jenis kelamin yang
berbeda. MSDM harus dapat menciptakan psikologi lingkungan yang positif seperti:
1. Meningkatkan bobot dan nilai pekerjaan.
2. Meningkatkan keamanan dan kenyamanan kondisi kerja.
3. Memelihara tingkat upah dan sistem imbalan yang memadai.
4. Menciptakan kepastian kerja.
5. Supervisi yang kompeten.
6. Menciptakan peluang yang lebih besar untuk maju dan berkembang.
7. Adanya umpan balik (feedback).
8. Lingkungan sosial yang positif dan keadilan.
 
Mengelola SDM Untuk Meningkatkan Daya Saing
Organisasi-organisasi saat ini mengakui bahwa kesuksesan dan daya saing sangat
tergantung pada tingkat efisiensi dan keefektifan operasional dan strategik. Tingkat
efisiensi dan keefektifan operasional meliputi (Flaherty, 1996):
1. Restrukturisasi operasi.
2. Penurunan biaya operasi.
3. Peningkatan kualitas barang dan jasa.
4. Inovasi secara terus menerus.
5. Pengembangan produk baru.
Sejalan dengan perubahan lingkungan bisnis global dan semakin sengitnya persaingan
yang terjadi, dunia kerja dan organisasi juga mengalami perubahan. Isu-isu bisnis yang
berkaitan dengan SDM terus berkembang dan menyebar pada seluruh organisasi yang ada
saat ini. Segala upaya yang diperlukan untuk menciptakan suatu organisasi yang berhasil
tergantung pada perubahan yang signifikan dalam MSDM. Berbagai upaya yang
dilakukan organisasi adalah:
1. Perampingan organisasi (downsizing) yang meliputi pensiun, pemberian uang
pesangon, suksesi manajemen dan program-program perencanaan SDM yang lebih
baik untuk mengurangi terjadinya downsizing lebih lanjut.
2. Desentralisasi melibatkan upaya melatih pekerja dalam pembuatan keputusan,
penilaian kerja, perubahan-perubahan kompensasi, dan ketrampilan ketrampilan
kepemimpinan (leadership) yang baru.
Berdasarkan pengalaman-pengalaman eksekutif tidak ada organisasi yang fleksible,
yang ada hanya orang-orang yang fleksible.
Staf SDM diharapkan dapat mengarahkan dan mendukung upaya organisasi untuk
mengembangkan kemampuan manajer dalam sebuah organisasi yang datar, lebih ramping
dan lebih fleksible. Kasus reenginering di General Electrics yang dipimpin oleh Jack
Welch menunjukkan bahwa kerja tim, perspektif seluruh perusahaan, wawasan global,
dan orientasi pelanggan merupakan atribut-atribut kritis bagi pemimpin-pemimpin dan
manajer-manajer General Electric.
Walaupun demikian dalam organisasi yang datar dan ramping, rotasi dan mobilitas
pekerjaan cukup sulit dilakukan sebab lebih sedikit manajer-manajer yang memiliki
mobilitas tinggi. Meningkatnya tekanan waktu serta tuntutan terhadap kinerja unit-unit
bisnis dan kinerja individual dapat menyebabkan unit unit bisnis mengalami kemunduran
karena sulitnya melepaskan manajer-manajer berbakat untuk bertugas di lokasi-lokasi
yang tersebar di seluruh dunia. Oleh karena itu diperlukan suatu cara untuk mengelola
SDM dalam organisasi yang lebih datar dan lebih ramping.
Terjadinya merger dan akuisisi perusahaan-perusahaan menyebabkan pengurangan
(reduksi) tenaga kerja dan hubungan-hubungan dengan komunitas yang memiliki fasilitas
(sebelumnya tersembunyi). Merger dan akuisisi memiliki implikasi-implikasi penting
bagi MSDM. Merger dan akuisisi perlu menyelaraskan kembali reporting relationship
(hubungan-hubungan pelaporan) dan integrasi macam-macam organisasi yang semula
independen (tidak saling tergantung). Manajer SDM dan manajer lini harus dapat bekerja
sama dalam mendukung program-program dan strategi organisasi untuk menciptakan
organisasi yang efektif.
Mengelola SDM Untuk Menghadapi Globalisasi
Globalisasi akan terus menjadi fenomena yang tidak dapat dielakkan. Perusahaan akan
beroperasi di lingkungan bisnis yang bergejolak dan kacau. Tekanan internasional dan
domestik terhadap organisasi terus berlanjut dan semakin intensif. Dengan kemajuan
teknologi informasi, teknologi komunikasi dan pasar finansial dunia akan melebur dan
negara bangsa akan berakhir (Ohmae, 1996). Organisasi harus memiliki kreativitas tinggi,
terus menerus melakukan inovasi, meningkatkan fleksibilitas, memberikan respon dan
beradaptasi secara cepat terhadap perkembangan-perkembangan di seluruh dunia.
Dalam kondisi ini organisasi yang dapat menyesuaikan diri adalah organisasi yang
lebih bersifat desentralisasi (tanggung jawab lebih dekat pada level pengoperasian).
Organisasi yang terdesentralisasi memiliki kepemimpinan yang partisipatif dan memiliki
kerjasama yang baik dengan pemasok, konsumen, karyawan pemegang saham dan
masyarakat (stake holdernya). Selain itu perusahaan harus menciptakan produk baru
memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan dengan mencari dan menjaga keunggulan.
Organisasi harus mengembangkan perspektif global. Kecepatan dan ketangkasan akan
menjadi syarat mutlak bagi organisasi modern. Kebijaksanaan-kebijaksanaan SDM perlu
mencerminkan karakteristik-karakteristik organisasi yang diperlukan. Organisasi
memerlukan manajer internasional yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis saja
tetapi harus pula memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan budaya yang
dihadapi. Seringkali manajer gagal karena tidak dapat menyatu dengan adat dan budaya
di negara asing di mana organisasi beroperasi (Christoper dan Goshal, 1992).
Manajer seharusnya mengenal sikap mental dan perilaku bawahan baru serta
bagaimana memperlakukan orang-orang asing. Menurut Jeffry Stall, direktur hubungan
personel perusahaan Merck, untuk go internasional diperlukan daya saing perusahaan
dalam bidang kompetensi SDM baik secara domestik maupun internasional. Struktur
global memerlukan SDM yang dapat beroperasi secara internasional (Wortzel dan
Wortzel, 1997).
Dengan menjadi anggota tim manajemen dan berhadapan dengan isu bisnis yang
berkaitan dengan SDM maka manajer individual dituntut menguasai beberapa peran
antara lain:


1. Sebagai orang bisnis.
2. Sebagai pembentuk perubahan.
3. Sebagai konsultan bagi organisasi atau mitra kerja organisasi.
4. Sebagai perumus dan pengimplementasi strategi.
5. Sebagai manajer bakat, minat, dan kepemimpinan.
6. Manajer asset dan pengendalian biaya.

PRAKTIK-PRAKTIK PENGELOLAAN SDM UNTUK
KEUNGGULAN BERSAING
Sukses bersaing organisasi bisa dicapai dengan pengelolaan SDM potensial yang
dimilikinya. SDM bisa dijadikan sebagai sumber keunggulan kompetitif lestari serta tidak
mudah ditiru pesaing karena (Pfeffer, 1995):
1. Sukses bersaing yang diperoleh dari pengelolaan SDM secara efektif tidak
setransparan mengelola SDM lainnya, seperti melihat komputerisasi sistem informasi
yang terdiri atas semikonduktor dan sejumlah mesin pengontrol.
2. Bagaimana SDM dikelola dipengaruhi oleh budaya. Budaya organisasi akan
mempengaruhi ketrampilan, kemampuan SDM, serta kesesuaiannya dengan sistem
yang ada.
Selanjutnya Pfeffer (1995) menegaskan bahwa suatu keunggulan kompetitif dapat
dicapai melalui pengelolaan sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan secara
efektif. Hal ini dapat diperoleh dengan menerapkan praktik-praktik berikut secara saling
berkaitan karena sulit untuk menangani suatu tindakan bila hanya diterapkan secara
terpisah.
¨ Keselamatan kerja (employment security). Employment security untuk menghadapi
tekanan akan perlunya kehati-hatian dan selektivitas yang tinggi dalam
mempekerjakan manusia. Lebih jauh employment security mendorong keterlibatan
karyawan karena karyawan akan lebih termotivasi untuk memberikan kontribusi
mereka terhadap proses pekerjaan.
¨ Keselektifan dalam perekrutan (selective in recruiting), merupakan jaminan dalam
pekerjaan dan kepercayaan pada sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan untuk
meraih keunggulan bersaing. Ini berarti dibutuhkan kehati-hatian dalam memilih
orang yang tepat, dengan cara yang benar. Dalam praktiknya persahaan melakukan
proses perekrutan sangat cermat didasarkan atas keinginan perusahaan untuk sukses
dalam persaingan. Di sisi lain, banyak juga proses penyaringan dilakukan untuk
menemukan orang yang dapat bekerja dengan baik dalam suatu lingkungan baru,
dapat belajar dan berkembang, sehingga membutuhkan supervisi yang lebih sedikit.
¨ Tingkat upah yang tinggi (high wages). Perusahaan yang ingin mempekerjakan tenaga
kerja yang sangat kompeten, pemberian upah atau gaji yang lebih tinggi merupakan
salah satu faktor kunci. Tingkat upah yang tinggi akan memberikan kemampuan lebih
selektif dalam menemukan orang yang dapat dilatih dan bertanggung jawab terhadap
organisasi. Upah yang tinggi merupakan hal yang paling penting karena akan
memberikan kesan bahwa organisasi sangat menghargai karyawannya.
¨ Pemberian insentif (incentive pay). Sudah merupakan suatu tendensi bahwa uang sering digunakan untuk memecahkan masalah organisasional. Karyawan dimotivasi
oleh faktor-faktor yang melebihi uang seperti pengakuan, jaminan, perlakuan yang
adil, dan semuanya memberikan pengaruh yang besar terhadap individu.
¨ Hak kepemilikan karyawan (employee ownership), memberikan dua keuntungan yaitu
karyawan yang memiliki keinginan terhadap kepemilikan dalam organisasi tempat
mereka bekerja , dan adanya konflik yang lebih sedikit antara modal dan tenaga kerja.
Penerapan employee ownership yang efektif dapat mensejajarkan keinginan karyawan
dengan pemegang saham, dengan cara membuat karyawan sebagai pemegang saham
juga. Kedua, employee ownership menempatkan saham pada karyawan yang
cenderung untuk mengambil suatu gambaran jangka panjang organisasi, strategi
organisasi, kebijakan investasi, dan manuver keuangan lainnya.
¨ Information sharing. Jika sumber daya yang dimiliki perusahaan merupakan sumber
keunggulan bersaing, maka sangat jelas bahwa mereka harus memiliki informasi yang
dibutuhkan untuk melakukan apa yang diisyaratkan bagi tercapainya suatu
kesuksesan. Salah satu alasan yang potensial bagi perusahaan untuk tidak
menyingkapkan informasi pada sejumlah besar karyawan adalah terdapat
kemungkinan bahwa informasi tersebut akan bocor sampai pada pesaing.
¨ Partisipasi dan pemberdayaan (participation and empowerment). Dengan adanya
informasi yang diketahui bersama pada semua tingkat organisasional, merupakan
suatu kondisi awal yang diperlukan bagi sistem kerja yang berhasil, mendorong
desentralisasi dalam pengambilan keputusan, dan memberikan keleluasaan bagi
pekerja untuk berpartisipasi, dan pemberdayaan dalam pengendalian proses pekerjaan
mereka sendiri. Kepuasasan karyawan dan produktivitas kerja akan semakin
meningkat dengan meningkatnya partisipasi karyawan.
¨ Pengelolaan tim secara mandiri (self managed team). Organisasi yang memiliki suatu
tim yang kuat dan tangguh , cenderung memperoleh hasil yang memuaskan.
Keuntungan yang diperoleh pada organisasi yang memiliki self managed team
diantaranya adalah berkurangnya pembelian, penugasan karyawan, dan produksi,
karena semuanya dapat ditangani oleh tim kerja yang sudah terkelola dengan baik.
¨ Pelatihan dan pengembangan ketrampilan (trainning and skill development).
Merupakan suatu bagian yang integral dari sistem kerja yang paling baru, merupakan
komitment yang lebih besar terhadap pentingnya pelatihan dan pengembangan SDM.
Pelatihan akan memberikan hasil yang positif hanya jika pekerja yang dilatih
mendapatkan kesempatan untuk menggunakan keahlian tersebut. Disamping perlunya
pelatihan dan pengembangan bagi pekerja dan manajer, juga dibutuhkan perubahan
struktur kerja, yaitu dengan memberikan kepada mereka keleluasaan untuk melakukan
segala sesuatunya secara berbeda. Pelatihan tidak hanya menunjukkan komitmen
perusahaan terhadap karyawan, tetapi juga memastikan bahwa fasilitas akan tetap
dilengkapi dengan orang-orang yang memiliki kualifikasi yang tinggi, yang secara
lebih spesifik telah telah dilatih untuk pekerjaan mereka yang baru.
¨ Cross Utilization and Cross Trainning. Dengan adanya orang yang melakukan
pekerjaan ganda, akan memiliki sejumlah keuntungan potensial bagi perusahaan.
Dengan melakukan sesuatu lebih banyak dapat membuat pekerjaan yang dilakukan
lebih menarik. Adanya keragaman dalam pekerjaan mengijinkan adanya suatu
perubahan yang cepat dalam aktivitas, dan secara potensial akan memberikan
perubahan kemampuan karyawan untuk berhubungan dengan sesama. Masing-masing
bentuk keragaman ini dapat membuat kehidupan kerja lebih menantang.
¨ Symbolic egalitarian. Salah satu hambatan untuk mendesentralisasikan pengambilan
keputusan yaitu dengan menggunakan self managed team. Perolehan komitmen dan
kerjasama karyawan merupakan suatu simbol yang memisahkan orang yang satu dan
yang lainnya. Sebagai konsekuensinya, bahwa banyak perusahaan terkenal dalam
mencapai keunggulan bersaing melalui SDM dengan sejumlah bentuk egalitarianism.
Egalitarianism yaitu sejumlah cara untuk memberikan tanda bahwa bagi orang dari
dalam perusahaan, maupun orang dari luar perusahaan memiliki kesamaan komparatif.
Dapat dicontokan di sini dengan tidak diberlakukannya tempat khusus untuk arena
parkir. Egalitariarism ini membuat semua aktivitas dan tindakan berjalan lebih lancar
dan lebih mudah, karena tidak adanya perbedaan status. Dalam konteks ini semua
orang adalah sederajat.
¨ Wage compression, isu ini sering dipertimbangkan dalam bentuk kompresi hirarkis.
Tugas yang saling tergantung dan memerlukan kerjasama sangat membantu untuk
menyelesaikan tugas. Kompresi bayaran dengan mengurangi kompetisi interpersonal
dan meningkatkan kerjasama pada gilirannya akan mengarah pada efisiensi.
¨ Promotion from within, yaitu mendorong pelatihan dan pengembangan keahlian
karena tersedianya kesempatan dan peluang promosi dalam perusahaan bagi para
pekerja. Promosi dari dalam pekerjaan akan memberikan fasilitas desentralisasi,
partisipasi dan delegasi karena hal ini membantu mempromosikan rasa percaya antar
tingkatan hirarki, promosi dari dalam perusahaan, dapat diartikan bahwa supervisor
bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan upaya bawahannya. Promosi dari dalam
perusahaan juga menawarkan suatu insentif untuk bekerja lebih baik. Dan
memberikan suatu keadilan serta keleluasaan di tempat kerja. Keuntungan lain yang
dapat diperoleh melalui promosi dari dalam perusahaan adalah dapat memastikan
bahwa orang dalam satu posisi manajemen secara aktual mengetahui sesuatu tentang
bisnis, teknologi dan operasional yang mereka hadapi dan lakukan.
Untuk mencapai keunggulan kompetitif melalui praktik-praktik pengelolaan sumber
daya manusia memerlukan waktu dan proses. Jadi semuanya tidak semudah membalikkan
telapak tangan. Bila tujuan perusahaan telah dicapai, maka keunggulan kompetitif yang
diperoleh melalui sumber daya manusia secara subtansial dapat bertahan lebih lama, dan
lebih sulit diimitasi oleh pesaing.

KESIMPULAN
Lingkungan bisnis telah mengalami perubahan secara fundamental. Perubahanperubahan
tersebut menuntut perubahan peran MSDM yang lebih kompleks dan lebih
baik dari sebelumnya Sumber daya menjadi asset kritis organisasi. Hal ini berarti SDM
tidak hanya sekedar diikutsertakan dalam filosofi perusahaan tetapi juga dalam proses
perencanaan strategis.
Meningkatnya isu-isu bisnis yang terkait dengan SDM memiliki pengaruh kuat pada
manajer sumber daya manusia dan manajer fungsional dalam organisasi. Sumber daya
manusia memerlukan pengelolaan yang efekti agar dapat menciptakan kompetensi bagi
perusahaan. Dengan demikian daya saing organisasi dalam menghadapi globalisasi akan
meningkat. Selain itu maraknya fenomena diversitas SDM diharapkan dapat menjadi
sumber keunggulan bersaing bagi perusahaan.
Pengelolaan SDM dituntut lebih proaktif dan responsif. Segala aktivitas yang
dilakukan harus dapat mengantisipasi berbagai perkembangan yang terjadi, kemudian
melakukan tindakan-tindakan untuk mengahadapi isu-isu bisnis yang berkaitan dengan
SDM. Manajemen sumber daya manusia (MSDM) telah berubah dari fungsi spesialisasi
yang berdiri sendiri menjadi fungsi yang terintegrasi dengan seluruh fungsi-fungsi lain
dalam organisasi, untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Berubahnya fungsi dan
pusat perhatian MSDM memerlukan perubahan kualifikasi pengelola MSDM agar dapat
mengikuti perkembangan dan memberikan tanggapan yang sesuai.
Sudah semestinya, perhitungan perusahaan saat ini ditujukan pada pengembangan
pengelolaan SDM secara kontinyu dan signifikan. Pengembangan pengelolaan SDM
harus memenuhi kebutuhan organisasi dan tuntutan perkembangan. Tidak bisa dipungkiri
dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi pengelolaan SDM diarahkan untuk
mendukung bisnis yang luas dan berkembang. Pada dasarnya bisa dikatakan bahwa untuk
bertahan dalam persaingan maka pengelolaan SDM memberikan suatu peran strategis,
dengan memastikan bahwa kompetensi karyawan dapat memenuhi tuntutan kinerja
organisasi saat ini.

sumber :
DAFTAR PUSTAKA
Christoper, A.B., dan S. Ghosal. 1992. “What Is a Global Manager?”. Harvard Business
Review. September-October: 124-132.
Copeland, L. 1988. “Valuing Diversity: Pioneer and Champions of Change”. Personnel.
July: 48.
Cox, T.H., dan S. Blake. 1991. “Managing Cultural Diversity: Implications for
Organizational Competitiveness”. Academy of Management Executive. 5: 45-56.
Flaherty, M.T. 1996. Global Operation Management. New York: McGraw Hill, Inc.
Foster, R.P. 1988. “Work Force Diversity and Business”. Training and Development
Journal. April: 39.
Hammer, M., dan J. Champy. 1993. Reengeenering The Corporation: A Manifesto for
Business Revolution. New York: Harper Business.
Pfeffer, J.. 1995. “Producing Sustained Competitive Advantage Through the Effective
Management of People”. Academy Management Executive. Vol. 9, No 1:55-72.
Lawrence, S. 1989. “Voice of Human Resources Experience”. Personnel Journal. April:
61-75.
Ohmae, K. 1995. The End of the Nation State: The Rise of Regional Economies. New
York: The Free Press.

http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/man/article/viewFile/15623/15615






























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar